×

Bukti Nabi Muhammad Bukan Seorang Pedofil


Banyak para pengkritik Islam yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang pedofil karena beliau menikahi Aisyah radiyallahu anha pada usia yang sangat muda. Karena kritik-kritik ini terus berdatangan, tentunya seseorang yang belum tahu banyak tentang Islam menjadi bertanya-tanya: Apakah Nabi Muhammad adalah seorang pedofil? Mari kita melakukan analisis terhadap hal ini:

1. Pernikahan pada usia muda adalah hal yang umum pada masa itu

Pertama-tama, penting untuk diketahui bahwa orangtua Aisyah lah yang ingin menikahkan Aisyah kepada Rasulullah s.a.w, dan tidak ada satu Muslim pun yang menentang hal ini. Bahkan musuh-musuh Rasulullah, orang-orang Arab penyembah berhala tidak mencemooh Rasulullah karena pernikahannya dengan Aisyah yang masih belia. Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan seperti ini adalah umum di zaman itu. Dan bahkan di zaman sekarang, pada negara-negara dunia ketiga (baik negara mayoritas berpenduduk Islam maupun tidak), gadis-gadis kecil yang bahkan masih berusia 9 atau 10 tahun telah menikah.

Bahkan pada tahun 1895, di Delaware, umur minimal untuk menikah bagi seseorang adalah 7 tahun. Di Russia, umur minimal bagi seseorang untuk menikah adalah 10 tahun pada 1880, kemudian menjadi 14 tahun pada 1920, dan menjadi 16 tahun pada 2007. Di California, AS, umur minimal bagi seseorang untuk menikah adalah 10 tahun pada 1880, kemudian menjadi 16 tahun pada 1920 sampai sekarang. Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya. (Link: chnm.gmu.edu).

2. Maria (ibunda Yesus) menikahi Yusuf ketika masih berumur sekitar 12-14 tahun

Menurut Roman Catholic’s Encyclopedia “New Advent”, Maria masih berumur sekitar 12-14 tahun ketika dia menikahi Yusuf yang berumur 90 tahun. Juga menurut Catholic Encylopedia (link: newadvent.org) dikatakan sebagai berikut:

Ketika berumur 40 tahun, Yusuf menikahi seorang wanita bernama Melcha atau dipanggil Escha oleh sebagian orang, dipanggil Salome oleh orang lain; Mereka hidup selama 49 tahun bersama-sama dan mempunyai 6 orang anak: dua putri dan 4 putra, yang paling bungsu bernama Yakobus. Setahun setelah kematian istrinya, sebagaimana diumumkan oleh para pendeta kepada penjuru Judea bahwa mereka ingin mencari seorang pria terhormat di suku Juda untuk memperistri Maria, yang berumur sekitar 12 sampai 14 tahun, sedangkan Yusuf berusia 90 tahun, pergi ke Yerussalem di antara banyak kandidat, sebuah mukjizat dari Tuhan memilih Yusuf, dan dua tahun kemudian Maria pun hamil.”

Hal ini juga memperkuat bukti bahwa pernikahan di usia muda adalah hal yang umum di zaman dahulu.

3. Budaya Timur Tengah dan budaya-budaya lainnya

Jika anda melakukan analisis terhadap sejarah dari suku-suku di Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, India, dan negara-negara Oriental sekitar 1.400 tahun yang lalu, anda akan melihat bahwa banyak suku, bahkan sampai sekarang membolehkan menikahi wanita pada usia yang masih sangat muda.

Apakah anda pikir adil bahwa seseorang dari zaman sekarang menyebut Rasulullah sebagai pedofil dan pemerkosa sedangkan orang-orang pada zamannya, bahkan musuh-musuhnya tidak ada yang menentang pernikahannya pada waktu itu? Bahkan orang-orang kafir Quraisy, orang-orang Yahudi dan Kristen dari Madinah tidak pernah menentangnya atau mencela beliau untuk menyerang Islam seperti yang dilakukan para pengkritik Islam di zaman sekarang.

Kita cukup memahami budaya pada masa itu. Kehidupan di Timur Tengah pada masa itu sangat simpel. Ini jauh lebih simpel daripada yang dapat dibayangkan kita, karena pada masa itu mereka tidak punya televisi, listrik, atau peralatan-peralatan listrik lainnya. Mereka hidup mengandalkan air dan sumber daya alam lainnya. Mereka hidup dengan memakan buah-buahan, sayuran, dan binatang ternak mereka.

Para orangtua di zaman itu melihat penampilan fisik seorang anak perempuan ketika mereka mempersiapkannya untuk pernikahan. Mereka tidak terlalu memikirkan tentang umurnya. Gadis itu bisa saja baru berumur 9 atau 13 tahun, tidak masalah.

4. Bagaimana dengan orangtua Aisyah (ibu dan bapaknya)?

Karena orangtua Aisyah lah yang menyetujui pernikahan Aisyah dengan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, apakah adil bagi siapapun untuk menghina Nabi Muhammad shalalalahu ‘alaihi wassalam dengan sebutan pedofil?

5. Apabila pernikahan ini adalah sesuatu yang memalukan, tentunya hal ini akan dihapus dari catatan sejarah

Pertama-tama, apabila memang pernikahan Aisyah adalah sesuatu yang dianggap memalukan atau jahat pada masa itu, tentunya pernikahan ini tidak akan dicatat dalam hadist dan keluarga mereka akan berusaha semaksimal mungkin agar pernikahan ini tidak diketahui oleh siapapun.

Tapi fakta bahwa pernikahan ini telah sampai kepada kita dan tercatat dalam berbagai hadist-hadist termasuk hadist Bukhari dan hadist Muslim, dan diriwayatkan sendiri oleh Aisyah, hal ini menandakan bahwa pernikahan ini secara budaya dan moral diterima oleh penduduk Arab pada masa itu. Dan bukti lainnya adalah orang-orang Muslim pada masa itu tetap beriman pada Rasululllah dan tetap mencintai beliau.

Kedua, kita dapat melihat kehidupan dari Aisyah radiyallahu anha setelahnya. Aisyah tentunya adalah salah satu orang yang paham akan hukum-hukum Islam. Bahkan dikatakan bahwa dia telah menjadi seorang yang memberikan fatwa-fatwa agama. Dia seringkali ditanyakan perihal aturan-aturan agama oleh orang-orang Arab pada masa itu, yang ingin menuntut ilmu padanya, dan datang dari Yaman, Bahrain, Suriah, dan sekitarnya. Sejarah telah mencatat Aisyah radiyallahu anha sebagai wanita mulia yang memiliki pengetahuan Islam sangat tinggi.

Jika memang dia adalah korban dari pedofilia tentunya dia akan hancur secara emosional, psikologis, mental, dan bahkan secara fisik, tapi pencapaian yang telah dilakukannya pada saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam masih hidup dan setelah wafatnya beliau membuktikan bahwa dia adalah seorang wanita yang bahagia atas pernikahannya dengan Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, dan dia menjadi salah satu wanita dengan pengetahuan Islam paling tinggi sepanjang sejarah dan telah meriwayatkan banyak hadist sahih.

6. Seseorang mungkin bekata “Tapi tetap saja Aisyah masih anak-anak menurut standar kita di zaman sekarang!”

Berkenaan dengan ini, banyak hal-hal yang kita lakukan sekarang tidak benar di mata orang-orang zaman dahulu dan leluhur kita. Setiap zaman mempunyai standarnya masing-masing. “Standar” kita di zaman sekarang tentu berbeda dengan apa yang terjadi 1.400 tahun yang lalu. Di zaman sekarang, siapapun di bawah umur 18 tahun dianggap sebagai “anak-anak”, seseorang yang masih membutuhkan orangtunya. Namun, pada masa itu, bahkan remaja berumur 18 tahun telah menjadi raja. Bahkan Bibel sendiri pernah mencatat remaja 18 tahun telah menjadi raja pada ayat berikut: “Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem” (Bibel – 2 Raja-raja 24: 8).

Dan juga kita bisa melihat fakta bahwa Osama bin Zaid. Saat itu dia pernah menjadi panglima pasukan umat Muslim dan ditunjuk langsung oleh Rasulullah sendiri. Coba tebak berapakah umurnya ketika dia memimpin pasukan Muslim dan mengalahkan pasukan Romawi? Umurnya barulah sekitar 16 sampai 18 tahun.

Jadi poinnya disini adalah, mungkin saja Aisyah radiyallahu anha dianggap sebagai anak-anak oleh anda, tapi dia dianggap telah cukup usia untuk menikah dan telah mencapai pubertas pada waktu itu.

7. Penelitian Declan Tobin bahwa seseorang yang tinggal di daerah panas mencapai umur pubertas lebih cepat

Nabi Muhammad s.a.w menikahi Aisyah ketika Aisyah berumur 6 tahun dan menggaulinya ketika Aisyah berumur 9 tahun. Jadi apakah yang ditunggu oleh Nabi Muhammad s.a.w selama jangka waktu 3 tahun (6 – 9 tahun)? Beliau menunggu Aisyah r.a mencapai masa pubertas. Anda mungkin bertanya-tanya “Mungkinkah seorang gadis berumur 9 tahun telah mencapai pubertas?” Hal ini benar, dan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Declan Tobin dan M. Planas and partners bahwa suatu daerah yang memiliki temperatur lebih tinggi menyebabkan seorang wanita menjadi lebih cepat mencapai tingkat kedewasaan.

8. Sifat Nabi Muhammad tidak cocok dengan ciri-ciri seorang pedofil


Saya akan membandingkan karakteristik seorang pedofil sebagaimana yang diambil dari Understanding the Pedophile Psyche dari Police Federation of England and Wales.

Seorang pedofil memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Sebagaimana Nabi Muhammad menikahi Aisyah, beliau juga menikahi wanita-wanita lainnya semasa hidupnya. Ini tentu saja tidak menandakan bahwa beliau mempunyai kepercayaan diri yang rendah. Dengan demikian hal ini tidak berlaku kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.

Tidak bisa mengendalikan diri. Banyak pedofil sulit untuk mengendalikan perilaku seksual mereka terhadap anak-anak. Mereka tidak bisa mengendalikan hasrat mereka untuk melakukan hubungan seksual dengan anak-anak.

Dan seperti yang telah dijelaskan di atas, Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam menunggu selama jangka waktu 3 tahun sebelum menggauli Aisyah r.a untuk menunggu Aisyah mencapai pubertas. Dengan demikian, poin tentang pedofil yang “tidak bisa mengendalikan diri” ini tidak berlaku kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Dan juga, pada saat berpuasa di bulan Ramadhan, seseorang tidak boleh melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Bagaimana mungkin Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam bisa melakukan ini jika beliau tidak bisa mengendalikan dirinya?

Penolakan. Banyak pedofil yang menyangkal telah melakukan hubungan seksual dengan anak-anak dan mereka akan menutup-nutupi hal tersebut.

Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah sekalipun menyangkal bahwa beliau pernah berhubungan seks dengan istri-istrinya. Dengan demikian hal ini tidak berlaku pada Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.

Sejarah dari aktivitas pedofilia sebelumnya. Banyak pedofil yang telah melakukan tindakan pedofilia kecil maupun besar di masa lalu dan hal ini telah menjadi kebiasaan dan juga menjadi sifat obsesif untuk melakukan seks dengan anak-anak.

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam tidak punya sejarah aktivitas pedofilia apapun. Semua istrinya, kecuali Aisyah, adalah wanita-wanita berumur dewasa, dan tidak ada tanda-tanda bahwa beliau terobsesi dengan anak-anak. Dengan demikian, hal ini tidak berlaku pada Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.

Hubungan yang buruk dengan keluarga. Banyak pedofil yang berasal dari keluarga yang telah hancur atau stabilitasnya tidak baik. Hal ini telah menjadikan mereka memandang perilaku seksual dengan anak-anak bisa diterima, terlebih lagi jika hal ini telah dipraktekkan oleh anggota keluarga lainnya di masa lalu.

Meskipun Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam menjadi yatim piatu pada usia muda, namun beliau begitu dekat dengan para anggota keluarganya. Bahkan beliau melarang siapapun untuk memutuskan tali silaturahmi dengan sanak famili dan kerabat, karena orang-orang seperti itu tidak akan masuk surga. Dengan demikian, hal ini tidak berlaku pada Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.

IQ yang rendah. Banyak pelaku pedofilia yang memiliki inteligensi rendah tapi tidak semuanya seperti ini.

Meskipun buta huruf, namun Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam memiliki reputasi sebagai remaja yang pintar, pedagang yang cerdas, dan pria yang sangat jujur dan bijak. Dengan demikian, hal ini tidak berlaku pada Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.

Depresi, kesendirian, dan kebutuhan akan hubungan. Hal ini berhubungan dengan rendahnya kepercayaan diri dan kurangnya empati terhadap korban. Banyak pedofil yang merupakan individu-individu kesepian yang hidup seorang diri dan kesulitan menjalin hubungan dengan orang dewasa, terlebih lagi untuk kebutuhan seksual. Bahkan sebagian dari mereka menderita penyakit kejiwaan dan psikologis.

Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam tidak menderita depresi ketika beliau menikahi Aisyah. Dan juga, kepercayaan diri yang rendah, kesepian, dan kesulitan menjalin hubungan bukanlah sifat Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam jika kita membaca biografi kehidupan beliau.

Mereka sendiri pernah dianiaya secara seksual. Banyak dari para pelaku pedofilia yang juga menjadi korban dan dianiaya orang dewasa ketika masih anak-anak. Mereka mengimitasi penganiayaan yang mereka alami dan menjustifikasi perilaku mereka karena mereka pernah menjadi korban.

Tentunya hal ini tidak benar.

Dengan demikian, semua fakta-fakta ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam bukanlah seorang pedofil, dan faktanya menikah di usia muda adalah hal yang umum di zaman itu. Aisyah sendiri sudah mencapai pubertas ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam menggaulinya.