×

Tangan ini Yang Tak Akan Disentuh Api Neraka



Tangan Seperti Inilah Yang Tak Akan Disentuh Api Neraka


Seorang ibu dengan bakti dan ketulusannya membesarkan anak - apalagi anak perempuan, berhak mendapatkan surga.

"Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini)," dan beliau mengumpulkan jari Jemarinya". (HR. Muslim no. 2631).

Bukan itu saja, Rasulullah pun menyanjung para ibu seperti dalam hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu , belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

"Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya." (HR Imam Ahmad & Nasa'i)

Hadits itu membuktikan betapa berharganya seorang ibu hingga surga bayarannya untuk orang yang berbakti padanya. Begitulah keterhubungan seorang ibu dengan surga.



Lalu, adakah keterhubungan seorang ayah dengan surga? Ada peran yang cukup fital yang dimiliki seorang ayah dalam keluarganya. Peran yang tak kalah menantang dibanding peran yang dimiliki oleh seorang ibu. Peran yang sarat tekanan, harus dihadapi dengan tenaga, pikiran, dan mental. Bahkan pepatah begitu hebatnya menggambarkan peran ini dalam kata-kata: "Peras keringat, banting tulang."Mencari nafkah yang halal".

Itu lah peran yang dimiliki oleh seorang ayah. Sebagai kepala keluarga, seorang ayah punya tanggung menafkahi anggota keluarganya. Bahkan sebelum menjadi seorang ayah, seorang suami punya kewajiban menafkahi istrinya. Seperti itu peran utama seorang kepala keluarga. Lalu adakah hubungannya dengan surga? Jawabannya, ada !!! Pada keringat seorang ayah, ada pengampunan yang Allah janjikan.



"Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat". Maka para sahabat pun bertanya: "Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Bersusah payah dalam mencari nafkah."" (HR. Bukhari)

Ada banyak hadits tentang keutamaan bekerja. Dan sudah seharusnya kerja keras dan profesionall menjadi attribute seorang mukmin. Karena pada profesionalisme, ada kecintaan Allah swt di sana.

"Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilakukannya secara itqon (profesional)". HR Baihaqi dari Aisyah ra.

Surga sudah selayaknya menjadi balasan bagi seorang ayah. Bila seorang ayah berada di kantor, maka ada tekanan yang dihadapinya dari berbagai penjuru. Tekanan target pekerjaan. Ini hanya sebuah tekanan normal, biasa ada dalam pekerjaan. Tapi biasanya ada pula tekanan lain seperti perilaku atasan yang kurang cocok dengan sang ayah, perilaku rekan kerja yang suka membuat gesekan ketidak-harmonisan, juga perilaku bawahan yang kurang sesuai harapan.



Belum lagi bila pekerjaan yang didapat di kantor itu terasa over load. Tekanan seperti ini tidak akan diketahui dan dirasakan oleh seorang anak balita yang gemar bermain, atau anak remaja yang suka bersenang-senang, juga tak dirasakan oleh ibu di rumah walau sedang mengeluh karena anaknya rewel.

Tekanan lain bisa didapat dari susahnya transportasi ke kantor, hingga penghasilan yang dirasa kurang memadai buat keluarganya tercinta. Stressfull. Bila sang ayah adalah seorang pengusaha, maka lebih hebat lagi tekanannya.

Mungkin orang-orang banyak bercita-cita menjadi pengusaha karena melihat kesuksesannya, tapi jarang yang melihat kerja keras seorang pengusaha sebelum menggapai sukses. Kerja keras itu lah yang dihadapi seorang ayah. Seorang pengusaha dihadapkan pada penghasilan yang tak tetap tiap bulannya. Yang penting memang tetap berpenghasilan.

Seorang ayah pekerja kantoran bekerja dari pagi sampai sore. Kadang bekerja lembur. Tapi seorang pengusaha waktu kerjanya adalah 24 jam sehari. Dalam tidur, ia harus siap mendapat panggilan telepon dari pelanggannya. Hal yang susah dimengerti oleh anggota keluarga lain. Namun ingatlah ada ampunan Allah SWT pada kesusah-payahan itu. Ada kecintaan Allah SWT pada tekanan tekanan itu.

Rasulullah saw bersabda,

"Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni". (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

Atau dalam hadits lain,

"Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni"(HR. Thabrani dan lbnu Abbas).

suatu waktu Rasulullah SAW bertemu dengan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad SAW melihat tangan Sa'ad yang kulitnya gosong kehitam-hitaman, keras dan melepuh seperti terpanggang matahari. Sa’ad pun memperlihatkan tangannya kepada Sang Rasul SAW. Rasulullah SAW pun bertanya kepada Sa’ad, "Mengapa tanganmu?". Jawab Sa'ad "Wahai Rasulullah,"



" Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah halal bagi keluarga yang menjadi tanggunganku."

Mendengar perkataan tersebut, Baginda Rasulullah SAW mengambil tangan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari dan menciumnya seraya bersabda,
"Tangan ini dicintai Allah dan Rasul-Nya dan Inilah tangan yang tak akan disentuh oleh api neraka."


Rasulullah saw juga bersabda,

"Sesungguhnya Allah Ta'ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal". (HR. Dailami).

"Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha". (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu 'Umar)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut aktifitas bekerja sebagai jihad di jalan Allah. Diriwayatkan, beberapa orang sahabat melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun berkata mengomentari pemuda tersebut, “Andai saja ini (rajin dan giat) dilakukan untuk jihad di jalan Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyela mereka dengan sabdanya,

“Janganlah kamu berkata seperti itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk menafkahi kedua orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah. Namun jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan setan.” (HR Thabrani, dinilai shahih oleh Al Albani)

"Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang di jalan Allah 'Azza Wa Jalla". (HR. Ahmad)

Begitulah gan, menjadi orang tua berarti kita siap berjihad. Seorang ibu berjihad dalam rumahnya membesarkan anak-anaknya. Seorang ayah berjihad di medan usahanya. Wallahu a'lam


Quote:Ayah, engkau terhubung dengan surga melalui kerja kerasmu. Maka bergembiralah!!!

Ya Allah, berikanlah kami taufik untuk mencari nafkah dengan ikhlas dan cara yang halal sehingga kami pun terbebas dari siksa neraka dan dimasukan dalam surga